Ia menyodorkan photo seorang lelaki, lelaki yang menurutnya ganteng, yang sayangnya jauh lebih muda darinya itu.
“Hmm….tapi gantengnya dimana, Sa’?’ tanyaku keheranan, seraya mengamati photo bule berambut pirang cepak berhidung mancung dan bermata biru itu. Dari wajahnyapun sudah terlihat lebih muda dariku. Ya, ia berumur 20 tahun.
“Wakkkkzz….bagimu ini kurang ganteng, cha?”
“Aduhhh…Saaaaaaaa’!”
Buat orang kita pada umumnya, mungkin banyak yang suka orang bule, atau bilang kalau bule itu ganteng. Padahal kalau dilihat lebih lanjut, kulit mereka rata-rata sangatlah peka:
- Jika terkena sinar matahari, mukanya merah
- Jika malu, mukanyapun memerah, gampang ketahuan! :)
- Jika kedinginan, kulitnya pucat, warna pirang pada rambutnya menjadi lebih pirang dan banyak juga yang punya rambut seakan keputihan gitu karena terlalu pirang
- Di musim panas mereka berlomba-lomba untuk mencari matahari agar kulit mereka tidak lagi pucat dan warna rambut mereka menjadi agak gelap. Alhasil kulit merekapun lebih mirip kepiting rebus, alias merah :D
- Mereka mempunyai bercak-bercak coklat di badan mereka
- Kulit mereka cepat keriput dan mereka akan terlihat lebih tua dari usia mereka yang sebenarnya
Nah sekarang aku tanya lagi, gantengnya dimana?
Ah, opini pribadi :)
Lalu, bahan pembicaraan beralih ke type cowo. Mengumpulkan photo-photo cowo terkenal yg didapat dari google.
Hasil photo-photo Sa’: Continue Reading →
Sudah lama nggak dapet tag dari orang, hari ini di tag Ihwan, yang berhasil buat saya mikir selama beberapa jam :) (bukan mikirin Ihwannya loh *takut cewenya marah :D* tapi mikirin kebiasaan-kebiasaan itu).
Aku menatap langit malam itu yang nampak jernih, dikelilingi bintang-bintang yang berkelipan. Namun hanya dua bintang yang menarik perhatianku, dua bintang yang saling berjauhan letaknya. Kedua bintang itu tidak bersinar lebih terang dari bintang-bintang lainnya, kedua bintang itupun tidak berbentuk berbeda dari bintang-bintang lainnya. Singkat kata, bukan itu alasannya mengapa kedua bintang itu menarik perhatianku, yang menarik perhatianku adalah jaraknya, dengan bulan sebagai penengahnya. Bintang di ujung kiri mempunyai sekelompok teman-teman, tetapi ia nampaknya lebih memilih untuk menyendiri, sedangkan bintang yang diujung kanan tak kalah memiliki sekelompok teman-teman disekitarnya, ia bermain bersama mereka, akan tetapi hatinya merindu dan merasa kesepian. Aku mengumpamakan mereka sebagai dua makhluk yang terpisah, dua makhluk yang saling membutuhkan, dengan bantuan cahaya bulan yang memang merupakan sumber dari segala harapan. Continue Reading →
Ia menarik rambutku dan aku berusaha untuk mengejarnya di sepanjang ruang tamu dan ruang makan yang berukuran luas bagi anak kecil seusia kami. Akan tetapi badannya yang gesit itu berhasil menarik rambutku sekali lagi. Aku mendengus kesal, ingin menangkapnya walaupun aku hampir tidak pernah berhasil. Ia mendekatiku, menyubit pipiku dan berkata,”badan segemuk dirimu takkan bisa menangkapku” dengan senyum lebar. Akupun menunduk murung, tetapi ia memelukku, berusaha menenangkanku.
Ya, itu, salah satu kejadian dikala kita berdua masih kecil. Waktu demi waktu berganti, hingga remaja dan aku menemuinya kembali di sebuah villa sepupu. Ia yang sekarang bertubuh lebih tinggi dariku itu menatapku, menatap sebuah perbedaan drastis yang terjadi dalam diriku. Aku tidak lagi anak kecil bertubuh gendut, badanku yang bisa dibilang langsing ini dengan rambut sepundak, yang bermata minus walaupun jarang memakai kacamata minusku. Kejadian dikala kecil itu teringat kembali, kamipun tersenyum geli dan berbincang-bincang di beranda pada sore hari. Udara yang sejuk itu menemaniku, kami menatap kota Jakarta yang berada diujung sana.
Dulu, waktu aku umur 16, aku ngartiin putus pacaran tuh kalo cowoku nggak ngasih kabar selama berminggu2. Jadi ya, kalo cowo yang pertama hilang, cowo selanjutnya menanti. Begitu terus. Ada yang bilang aku cewenya A, ada yang bilang aku cewenya si B, kakaknya si C, ada yang bilang aku pacarnya D, anak tunas harapan, ada juga yang bilang kalo aku nih pas barusan putus sehari sama D anak tunas harapan ini eh malah jalan sama cowo, namanya sama, bedanya (uhmmm bedanya apa yah? Secara kedua D ini tinggal nggak jauh dari rumahku) orang yg ini sekolahnya di smun 5. Anggap aja dia D2