Aku menatap langit malam itu yang nampak jernih, dikelilingi bintang-bintang yang berkelipan. Namun hanya dua bintang yang menarik perhatianku, dua bintang yang saling berjauhan letaknya. Kedua bintang itu tidak bersinar lebih terang dari bintang-bintang lainnya, kedua bintang itupun tidak berbentuk berbeda dari bintang-bintang lainnya. Singkat kata, bukan itu alasannya mengapa kedua bintang itu menarik perhatianku, yang menarik perhatianku adalah jaraknya, dengan bulan sebagai penengahnya. Bintang di ujung kiri mempunyai sekelompok teman-teman, tetapi ia nampaknya lebih memilih untuk menyendiri, sedangkan bintang yang diujung kanan tak kalah memiliki sekelompok teman-teman disekitarnya, ia bermain bersama mereka, akan tetapi hatinya merindu dan merasa kesepian. Aku mengumpamakan mereka sebagai dua makhluk yang terpisah, dua makhluk yang saling membutuhkan, dengan bantuan cahaya bulan yang memang merupakan sumber dari segala harapan.
Pilihan setiap individu seseorang memang berlainan, dengan alasan dan sudut pandang yang berbeda. Seperti aku yang telah menjelaskan mengapa dua bintang itu menarik perhatianku. Adalah sebuah penggambaran tentang jauhnya jarakku dengannya. Sang pemberi harapan yang memberikan sinarnya seakan menjadi sebuah pembungkus badan dikala dingin, juga pembungkus hati dikala kesusahan.
Apa penyebab dari jauhnya jarak antara kedua bintang itu? Para ilmuwan, bahkan orang-orang sekitar kita akan menjawab bahwa mereka terpisahkan oleh gaya gravitasi, dimana daya tarik di alam luar sana tidaklah kuat seperti daya tarik yg berada di bumi. Yang seandainya gaya gravitasi disana sangat kuat, maka para astronot tidak akan melayang, dan kemungkinan yang akan terjadi menurut pengkhayalanku adalah benda-benda luar angkasa sana akan berbenturan dan akhirnyapun membentur bumi yang kita pijak ini. Sangat menakutkan!
Kedua bintang itu nampaknya telah ditakdirkan Tuhan untuk berada ditempatnya, jikalau mereka memohon-Nya untuk dipersatukan, maka itu memakan proses yang cukup lama bagi mereka yang harus mengelilingi bumi. Dan jikalau mereka akhirnya bertemu, bukan berarti mereka akan berbenturan, akan tetapi jarak diantara mereka akan menjadi lebih dekat. Tuhan tentunya mempunyai maksud tersendiri mengapa Ia menciptakan gaya gravitasi ini.
Adalah sebuah perumpamaan yang bisa kita gambarkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kau ada disini dan dia ada disana, dengan jarak yang cukup jauh yang harus kau lalui. Bumi adalah planet yang spesial bagi makhluk hidup, adalah alasan Tuhan mengapa Ia menciptakan gaya gravitasi yang lebih kuat. Ia juga menomor satukan bumi sehingga benda-benda luar angkasa itu tidak dapat menyentuh permukaan bumi dengan mudah karena Tuhan telah menciptakan atmosfir untuk melindungi bumi. Adalah bukti yang cukup kuat bahwa Tuhan sangat merawat bumi dan segala isinya dengan baik, dan juga bukti yang cukup kuat bahwa Tuhan telah mengatur segala sesuatunya dengan indah.
Mari lebih fokus dengan kehidupan kita sehari-hari. Aku yang sedang memandang kedua bintang itu, dengan bulan yang berada di tengah-tengah mereka. Bukan, bulan bukanlah sebagai penghalang diantara mereka, sinarnya adalah harapan dan sumber penerangan pada malam hari. Umpamakan dirimu sebagai bintang yang berada di ujung kiri dan dia di ujung kanan. Kau di barat, sedangkan ia di bagian timur. Seperti halnya bulan dan planet-planet lainnya yang harus menghadapi rintangan karena serbuan komet-komet, wajah bulanpun tak lagi mulus, akan tetapi ia senantiasa memancarkan sinarnya pada malam hari, yang menggantikan matahari pada siang hari.
Hidup ini memang berliku-liku jalannya, komet-komet itu bukan lagi berupa komet, melainkan berupa rintangan, kesusahan, putus asa, hawa nafsu, godaan, dan hal-hal lainnya yang berdampak buruk. Kau memohon pada-Nya untuk mempertemukanmu dengannya, yang juga mempunya proses yang bisa memakan waktu yang cukup lama. Dan jika kau bertemu dengannya, maka jarak antara kau dan dia bukanlah perumpamaan kedua bintang itu lagi, yang tidak bisa bersatu karena jika mereka bersatu maka mereka akan berbenturan. Tuhan yang telah menomor satukan bumi dan merawatnya telah menciptakan gaya gravitasi yang juga mengijinkanmu untuk berada di pelukannya, kalian tidaklah melayang. Dan kau tak akan hancur berkeping-keping karena berbenturan.
Yang susah disini adalah proses. Adalah beban dan resiko hidup. Proses ini yang menentukan ketabahanmu, ketulusan, dan semangatmu. Yang ditanya skarang adalah: akankah kau terus bersinar seperti bulan? Akankah kau senantiasa mencintainya, walaupun kau dan dirinya telah dilanda rintangan? Seberapa besarkah cintamu padanya? Proses itulah yang menjadi salah satu bukti. Mungkin ada juga gaya gravitasi yang sangat kuat didalam hatimu dan hatinya, yang menyebabkan ia selalu dekat dihati, walaupun jauh di mata :)
wehehehe… melow banget postingannya neng…
eh… tapi sebenernya bulan kan ga bersinar… dia hanya memantulkan cahaya matahari… :P *halah*
Thunsyyy :P
yah, akhir-akhir ini aku memang lagi mellow, apalagi kalo malem. Malah kalo bisa dibilang, tiap malam! Huhu!
Yah namanya juga lagi mengkhayal, anggap aja bulan yg bersinar :D
Walah… panjang amirr.. padahal bulan kan bunder dan bintang seperti persegilima, mereka gak panjang bentuknya *halah*
hehehe.. bagaimanapun bulan juga selalu memberi inspirasi dan tempatku melepas kangen, jadi pengen pergi ke bulan :D
wah, mungkin karena kepanjangan jadi gak pada ngeh kalo inti ceritanya tuh long distance relationship, komet yg jatuh ke bulan sama halnya dengan rintangan yg kita hadapi, dua bintang itu di ibaratkan 2 orang yg jauh tapi saling membutuhkan.
Cerita perumpamaan yang panjang buat ngejelasin rintangan yg didapet kalo dua orang berhubungan jauh, hiahahaha!
Perhatikan tagsnya: khayalan, perumpamaan :P
Aku selalu percaya, seperti kekuatan yang menjatuhkan apel ke tanah, kekuatan itu jugalah yang menarik bulan ke arah bumi.
Seperti itulah hal yang mempertahankan aku dan dia sampai sejauh ini, neng. Halaaaaaaah.