Maafkan aku

Ia menarik rambutku dan aku berusaha untuk mengejarnya di sepanjang ruang tamu dan ruang makan yang berukuran luas bagi anak kecil seusia kami. Akan tetapi badannya yang gesit itu berhasil menarik rambutku sekali lagi. Aku mendengus kesal, ingin menangkapnya walaupun aku hampir tidak pernah berhasil. Ia mendekatiku, menyubit pipiku dan berkata,”badan segemuk dirimu takkan bisa menangkapku” dengan senyum lebar. Akupun menunduk murung, tetapi ia memelukku, berusaha menenangkanku.

Ya, itu, salah satu kejadian dikala kita berdua masih kecil. Waktu demi waktu berganti, hingga remaja dan aku menemuinya kembali di sebuah villa sepupu. Ia yang sekarang bertubuh lebih tinggi dariku itu menatapku, menatap sebuah perbedaan drastis yang terjadi dalam diriku. Aku tidak lagi anak kecil bertubuh gendut, badanku yang bisa dibilang langsing ini dengan rambut sepundak, yang bermata minus walaupun jarang memakai kacamata minusku. Kejadian dikala kecil itu teringat kembali, kamipun tersenyum geli dan berbincang-bincang di beranda pada sore hari. Udara yang sejuk itu menemaniku, kami menatap kota Jakarta yang berada diujung sana.


Bogor 12 Agustus 1999

Ia menatapku lirih, teringat kembali masa-masa yang terlewati, baik buruk maupun indah. Sayang, malam itu adalah malam terakhirku untuk menemaninya, juga malam terakhirku berada di negeri tempatku berpijak dan melewati masa kecilku. Ia, yang telah kukenal sejak kecil, yang telah menyumbangkan jaketnya dikala aku menggigil kedinginan, yang telah menyumbangkan pahanya untuk dijadikan bantal disaat aku terkantuk diatas bangku rotan yang tak berbantal itu kini harus merelakan kepergianku.

Jo, seorang pecinta Pearl Jam yang juga ingin memasuki akademi kepolisian itu juga seseorang yang membutuhkan kekuatan untuk melepaskan dirinya dari jeratan narkoba, yang mulanya berasal dari seorang teman. Angin malam itu bertiup seakan-akan memelukku, dan bulan tampak bersinar lebih terang dibanding malam-malam sebelumnya. Aku memohon kepada angin untuk menenangkan hatinya dikala ku tak ada, aku memohon pada bulan untuk tidak berhenti menerangi malam, dengan cahayanya yang kuharap dapat memberikannya suatu harapan untuk masa depannya. Karena kutahu, Jo sangat membutuhkan kekuatan hati. Beberapa barang-barang miliknya telah digadaikannya demi mendapatkan heroin, walaupun hanya secuil. Jiwanya yang rapuh, adalah jiwa yang terkesan hampa, seakan-akan berteriak sekeras mungkin, tak rela melepaskanku, tak rela menerima kenyataan. Ia memelukku erat, adalah pelukan terakhir yang tak kan pernah kulupakan.

Belanda, 14 Agustus 1999

Aku baru saja berpijak di negeri asing ini, menghirup udara yang akan memberiku hidup mulai dari sekarang, dan seterusnya. Di negeri ini, dimana aku harus memulai kembali dari titik nol, seperti bayi yang barusan lahir dengan sosok seorang remaja, mencoba untuk memahami bahasa asing. Apartemenku yang menjadi tempat tinggalku itu, di kota kecil dekat Utrecht tidak berukuran luas dan aku harus membagi kasur dengan adikku. Aku melangkah ke teras, menikmati pemandangan kota itu dengan termenung, masih memikirkan semua kenangan yang ada, memikirkan kejadian yang lampau. Ingin rasanya kembali, 1 jam berlalu seakan-akan 1 abad. Aku tahu, ku takkan bisa kembali pada waktu itu, aku tidak memiliki kocek yang tebal.

Hari demi hari berlalu, aku mendapatkan surat darinya. Kubuka dengan rapi dan membacanya dengan seksama. Hanya selembar. Ya, hanya selembar. Akan tetapi itu telah membuatku senang dan akupun menyimpannya didalam organizerku. Bercarik-carik kertas telah kuhabisi, kuselipkannya kedalam amplop yang kutulis nama dan alamatnya dengan harapan ia akan mendapatkannya secepat mungkin.

Belanda, 18 Agustus 1999

Jo, apa kabar? Kamu masih ingat oma Evi? Hari ini beliau meninggal dunia. Perih rasanya harus merelakan seseorang untuk pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Masih ingatkah dirimu padanya? Masih ingatkah kamu dengan senyumnya yang khas itu? Terus terang aku sedih, Jo. Aku telah meninggalkan orang yang kusayang, teman-temanku yang selalu menemaniku, kini ditinggalkan oleh orang yang kusayang. Mungkin inilah balasan dari Tuhan semesta alam bagi diriku yang bejad ini. Kamu jaga diri ya, aku yakin kamu bisa melepaskan jeratan yang menjerat dirimu. Kamu jangan nyusul ya Jo, jaga kesehatanmu.

Suasana penguburan begitu sendu, aku melangkah kedalam, enggan rasanya menampakkan diri didepan orang-orang tat kala ku bermata sembab. Walaupun aku tahu mereka juga sedang dilanda kesedihan. Tak rela hati ini ditinggalkannya pergi. Aku menatapnya didalam peti mati, hati ini memanggilnya, walau beliau tidak akan mampu membuka matanya kembali. Dengan jeritan hati dan doa kupanjatkan. Selamat tinggal, oma. Aku berpamitan dan akupun kembali ke mobil dengan langkah berat.

===

Tahun demi tahun berlalu, berita baik dan duka silih berganti, bahkan setelah mengetahui bahwa kecanduan Jo terhadap narkoba semakin menjadi-jadi, apalagi setelah ayahnya meninggal dunia. Tahun 2003, dimana Jo sedang dilanda kemarahan dan kesedihan, pulang dengan pakaian yang penuh dengan darah. Berjingkat-jingkat memasuki pelataran parkir rumahnya, lewat jalan belakang dengan berharap tidak ada orang yang melihatnya. Lalu iapun menyuruh salah seorang pembantunya untuk segera menyuci bajunya, juga mengancamnya untuk tidak memberitahukannya kepada siapapun juga. Ya, mengancam, atau apalah namanya. Yang jelas ia tidak mau ketahuan orang rumah lainnya.

Ia mandi, dengan perasaan yang kalang-kabut mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Berantem. Iya, berantem, dengan sekelompok teman-temannya yang kini bukan lagi temannya. Entah masalah apa. Ia keluar dengan hanya sehelai handuk yang melekat di badannya, duduk di bangku kamarnya. Matanya menerawang, tubuhnya meronta-ronta menginginkan sesuatu. Diambilnya alat suntik itu dan ia menyuntiknya. Rupanya ada angin masuk dan ia tidak mengikat lengannya terlebih dahulu. Ia tergeletak lemas tak berdaya di bangkunya dan tidak bangun lagi.

Sementara itu, sepupu-sepupunya sedang menunggunya karena mereka akan latihan musik. Dengan wajah sendu adiknya melangkah mendekati mereka. “Jo telah meninggalkan kita semua…untuk selamanya”

Ingin rasanya hati ini berteriak, tapi kepada siapa? Kepada dinding-dinding di kamar? Beranda? Teras? Aku berlari ke lapangan luas, bertekuk lutut disana tak tahan menahan tangis. Maafkan aku yang meninggalkanmu pergi.

Cerita ini adalah kilasan balik tentang perjalanan hidup seorang Vanez. Dikumpulkan dari buku-buku hariannya yang telah lusuh.

3 Comments

  • Sungguh memilukan…

  • Aku pernah ada di fase yang sama ama jo, nez. Hanya aja aku masih beruntung diberi kesempatan kedua oleh Tuhan. Andai aku bener2 mati waktu itu, aku gak tau apakah ada Vanez lain yang menyesali kepergianku.

  • Ihwan: hidup tu memang gak selalu happy ya :(
    Chris: wahh, masa iya? Aku dari dulu paling takut jarum suntik, tp bukan krn jarum suntik sich yg buat aku gak pernah cicipin hard drugs walaupun pernah ngeliat dan kenal sama bandar jkt, yg buat aku gak pernah cicipin ya krn aku tau dampaknya sangat negatif. Jauh2 dr itu ya

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *