trilingual and weblog’s problem

Mungkin banyak orang yang mengira kalau bisa bicara lebih dari 1 bahasa itu canggih! Ya, mungkin begitu, tapi aku yang mengalaminya, disamping punya keuntungan tetapi juga punya kesulitan tertentu. Misalnya aja ngeblog, tiap kali mau posting mikir dulu:”gua pakai bahasa apa yah postingnya? Inggris? Indonesia? Belanda?

Hallah!

Dan juga kesulitan karena ada kata-kata yang hanya saya ngerti dalam bahasa Belanda, atau hanya dalam bahasa Indonesia, atau hanya dalam bahasa Inggris, jadi kalo saya butuh waktu yang lama buat ngeblog, itu udah biasa. Dan lagi banyak drafts yang masih harus di publish!

Buat orang yang tinggal di luar negeri, apalagi yang bahasa sehari-harinya bukanlah bahasa Inggris, saya yakin punya masalah yang serupa. Alhasil bahasa yang digunakan dalam weblog saya lebih dari 1 bahasa. Masalah ini bukan hanya di bidang weblog aja, di kehidupan sehari-haripun ada. Saya yang masih belajar desain grafis ini dapat kelas fotografi. Denger dan menulis yang penting-penting apa yang dibilang sama dosen. Oke, tentang sluitertijd, diafragma, ISO. Kalo ISO oke deh, itu internasional. Tapi sluitertijd? Saya hanya bisa ngangguk-ngangguk, ya saya kira saya mengerti; Tapi setelah pulang ke rumah dan cari info tentang sluitertijd dan diafragma, ternyata yang dimaksud sluitertijd atau belichtingstijd itu tuh Exposure! Dan diafragma itu ya maksudnya Shutter! Hallah! Bahasa Inggris kok diterjemah ke bahasa Belanda? Menyebalkan :) Bahasa Indonesianya Shutter dan Exposure?!? Hell, I don’t know! ;) Jadilah saya orang yang paling bego di kelas! :)

Saya lahir didalam keluarga (pihak ibu) yang bisa berbahasa Belanda. Bahkan bahasa Belanda adalah bahasa pertama ibu saya. Ibu saya memang lahir di Indonesia, di Bogor tepatnya. Tapi, bahasa sehari-hari yang digunakan orang tuanya (terlebih nenek saya) adalah bahasa Belanda. Maklum lah kalau di hari pertama ibuku sekolah, beliau dipulangkan kembali ke rumah, karena nggak ngerti sama penjelasan bu guru. Akhirnya, ibuku harus belajar bahasa Indonesia selama setahun, lalu balik lagi masuk sekolah. Dan karena ibuku tinggal di Indonesia dan setelah itu lebih menggunakan bahasa Indonesia, ibukupun tidak fasih berbahasa Belanda lagi. Tapi, ibuku masih membawa beberapa kata-kata dalam bahasa Belanda sampai aku lahir, beliau menamai tirai = gordijn, penghapus = stift (setip), lemari es = koelkast, tempat cuci tangan = wastafel (sampai sekarangpun saya nggak tau arti wastafel dalam bahasa Indonesia, apa betul artinya tempat cuci tangan? Itu terjemahan saya sendiri). Dan masih banyak lagi.

Seringkali saya berpikir,”kenapa yah gua gak tinggal di Amerika aja? Atau di England? Udah cape gua dengerin orang ngomong bahasa Belanda! Bahasa yang nyebelin!” Bahasa Indonesia itu mudah, karena gak ada kata-kata lampau dan yang akan datang!

Yesterday, I’m going to …. [isi apa aja]
Today, I’m going to … [isi apa aja]

Tapi bahasa Indonesia punya arti banyak dalam satu kata! Yang dimaksud itu adalah panggilan. Seringkali saya berpikir,”gua mau pakai gua-elo, atau saya-kamu, atau aku-kamu yah sama orang ini?!? Yang mana yang cocok?” Atau,”sebaiknya gua panggil dia apa yah? Ibu? Tante? Bapak? Atau panggil namanya aja?” Perlu kalian tahu, kalo di Belanda sini banyak orang yang memanggil orang tua mereka dengan sebutan nama, jadi mereka panggil Paul, Marijke (or whatever their names are), mereka tidak memanggil dengan sebutan ibu, bapa, atau mamma, pappa. Jika saya berbicara dengan seorang yang tidak dikenal, saya menggunakan kata “U” yang artinya adalah anda (apalagi kalau lawan bicara saya lebih tua dari saya). Tapi, stelah mengenal orang itu, saya gunakan kata “jij” yang artinya adalah kamu. Juga saya panggil dosen saya dengan sebutan nama, bukan bapak, bukan ibu, juga tidak menggunakan kata “U” tapi “jij”. Begitupun kalau saya manggil boss saya, tidak pakai bapak, atau ibu. Panggil namanya aja :)

Yang paling membingungkan itu kalo orang-orang Indonesia ngumpul disini. Alhasil, saya harus menggunakan bahasa Indonesia dan Belanda, yang dalam waktu beberapa menit ganti-ganti, tergantung lawan bicaranya siapa. Karena banyak juga yang diantara mereka tidak bisa bahasa Indonesia karena lahir disini. Nah, disini bingung deh sama kata panggilan. Alhasil, sayapun jadi sering seperti orang gagap :)

Ada yang senasib dengan saya? Or am I just the only one?

2 Comments

  • well, I blog in English but my mother language is Indonesian. But, living in Bandung, I have to mix between Indonesian & Sundanese. And since my wife was from Surabaya, I was forced to understand a little bit of Javanese.

    tapi banyak sekali kata dalam bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Belanda. So, even though I can’t speak Dutch, I’m familiar with some of the words :)

  • salah satu bahasa belanda yang aku tahu itu mevrouw :-P

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *